Skip to main content

PR AGENCY JAKARTA – Hubungan antara profesional PR (Public Relations) dan jurnalis selalu penuh tekanan dan saling ketergantungan. Kadang-kadang, hubungan ini bisa sangat tegang, menjadi situasi “tidak bisa hidup bersama mereka atau tidak bisa hidup tanpa mereka”.

Persepsi umum dari kedua profesi terhadap satu sama lain sering kali tidak positif. Studi tahun 2016 di Kroasia oleh Vercic dan Colic menunjukkan bahwa banyak profesional PR dan jurnalis merasa standar etika dan moral pihak lain belum memadai.

Persepsi negatif ini sebagian besar muncul karena tekanan pada profesional PR untuk mendapatkan visibilitas bagi merek atau individu, yang sering kali menghasilkan promosi yang tidak relevan atau tidak layak diberitakan. Ini membuat jurnalis kesulitan mempercayai kredibilitas dan konteks promosi PR.

Namun, hubungan ini tidak harus selalu tegang. Ada potensi untuk berkembang menjadi simbiosis yang produktif karena kedua profesi ini saling terkait erat dan dapat berkembang melalui kerjasama. Berikut adalah beberapa cara profesional PR dapat memanfaatkan media secara sehat dan produktif.

1. Hindari Email Massal Umum

Mengirim promosi umum ke seluruh daftar kontak jurnalis mungkin tampak efisien, tetapi sebenarnya kontra-produktif. Jurnalis mencari konten yang layak diberitakan, cerita yang mendalam dan bermakna. Ketika mereka menerima penawaran umum yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau bidang mereka, mereka tidak hanya akan menolaknya, tetapi mungkin juga akan enggan menganggap Anda serius di masa depan.

Cari tahu cerita apa yang Anda ingin sampaikan dan siapa yang ingin membacanya. Dengan begitu, Anda bisa mendekati jurnalis dan platform media yang tepat. Setiap aspek merek atau organisasi yang Anda promosikan mungkin menarik bagi audiens tertentu, sehingga masuk akal untuk mendekati outlet media yang sesuai. Kelompokkan jurnalis berdasarkan bidang minatnya dan gunakan pendekatan yang lebih spesifik saat melakukan promosi.

2. Evaluasi Kelayakan Berita

Tidak semua hal yang dianggap penting oleh klien Anda layak diberitakan. Jurnalis mencari berita yang relevan dan menarik bagi masyarakat umum. Jika berita Anda hanya penting bagi kelompok kecil, kemungkinan jurnalis akan ragu untuk menayangkannya. Namun, jika berita tersebut memiliki potensi untuk menarik perhatian yang lebih luas, maka layak dipertimbangkan.

Pakar PR Christopher Van Mossevelde menyarankan daftar periksa ini untuk menyaring berita sebelum memutuskan apakah akan menyampaikannya kepada jurnalis:

  • Waktu – Apakah ini terkini?
  • Kedekatan – Apakah terasa dekat atau relevan dengan audiens lokal?
  • Signifikansi – Apakah relevan dengan audiens yang lebih luas?
  • Keunggulan – Apakah ini memiliki kepentingan atau daya tarik luas?
  • Kepentingan Kemanusiaan – Apakah ini menginspirasi atau memiliki sudut emosional?

Jika berita Anda tidak memenuhi salah satu poin di atas, mungkin tidak layak untuk diberitakan.

Kesimpulan

Hubungan antara PR dan jurnalis bisa jadi kompleks dan penuh tantangan. Namun, dengan pendekatan yang tepat, profesional PR bisa membangun hubungan yang produktif dan saling menguntungkan dengan media. Memahami kebutuhan jurnalis dan menyampaikan konten yang relevan dan layak diberitakan adalah kunci untuk menciptakan kerjasama yang sukses.***

WeCreativez WhatsApp Support
Our Managing Director is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?